Misi Penghancuran HMI di Belakang Noer Fariansyah
Tulisan ini dimulai dari keprihatinan dalam melihat konflik dualisme
kepengurusan PB HMI yang sampai hari ini tidak jelas ujung
penyelesaiannya menuju satu Kongres.
Berawal dari terpilihnya Noer Fajriansyah (selanjutnya akan disebut
Fajri)sebagai Ketua Umum PB HMI akhir 2010 yang lalu di Graha Insan
Cita, Depok. Sejak genderang Kongres dimulai, Fajri merupaka salah satu
kandidat yang dianggap kurang potensial untuk memenangkan kogres. Wajar
saja, Fajri waktu dalam struktur PB HMI hanya menjabat Wakil Sekretaris
Jederal dan baru satu periode dalam struktur PB HMI.
Selain itu, dari aspek pemahaman dan penghayatan (tidak usah pengamalan)
konsep-konsep prinsip doktrin organisasi, kemampuan Fajri jauh dari
yang diharapkan. Terbukti setiap kali menyampaikan Mission HMI dalam
LK-II atau LK-III menimbulkan kekecewaan. Fajri sering dianggap oleh
peserta LK tidak mampu mengkonstruksikan pemikiran ke-HMI-annya saat
menyampaikan materi. Ini juga terjadi ketika memberikan sambutan dalam
acara pelantikan Cabang dan Badko. Pemahamannya tentang HMI jauh dari
standar, bahkan sangat rendah. Ibaratnya kader komisariat masih jauh
lebih mampu ketimbang Fajri. Fajri bahkan sering diusir dari ruang-ruang
LK karena kebodohannya itu.
Memang dari banyak sudut perspektif, Fajri memiliki banyak kekurangan
untuk terpilih. Selain tidak pernah menduduki jabatan Ketua Umum dalam
setiap jenjang struktur HMI (dari komisariat, Korkom, Cabang, maupun
Badko), dari segi intelektual dan manajerial juga dianggap sangat
kurang, palig tidak standar itu melekat dengan kultur yang ada di HMI.
Satu-satunya modal sebagai kekuatan yang dimiliki adalah UANG. Dengan
uang, Fajri secara mudah dapat merubah ketidakmungkinannya terpilih
menjadi pemenang di Kongres.
Cabang-cabang diberikan uang dalam jumlah yang cukup besar, bahkan
diarena kongres, Fajri dianggap sebagai kadidat yang uangnya “tidak
berseri”, artinya saking banyaknya uang sampai tidak bisa terhitung,
dengan calculator sekalipun. Begitulah kira-kira kekuatan Fajri. Bukan
hanya cabang sebagai pemilik suara di kongres, senior pun sebagai
kekuatan yang cukup berpengaruh terhadap psikologi keterpilihan cabang
ikut menikmati uang Fajri saat kongres. Wajar saja, ini dilakukan untuk
menegaskan pilihan pemilik suara itu dijatuhkan ke Fajri. Jurus ini
terbukti ampuh, dan Fajri menjadi pemenang.
Terhitung satu tahun masa kepegurusannya, Fajri kemudian dihadapkan
dengan skandal amoral. Diawali dengan pengakuan seorang fungsionaris PB
HMI (kader HMI-wati) berinisial “N” kepada beberapa teman dan senior HMI
bahwa dirinya (si “N”) pernah bahkan sering berulang kali melakukan
hubungan suami isteri dengan Fajri. Hubungan intim ini menurut pengakuan
“N” juga sempat dilakukan saat berlangsungnya kongres (waktu terpilih
mandi juub gay a??????). Dalam waktu yang relative singkat, isu ini
mengelinding bagai bola salju diseantero public HMI.
Menyikapi skandal ini, sebagian fungsionaris PB HMI melalui 7 (tujuh)
staf ketua dengan motiv menyelamatkan PB HMI kemudian mengambil alih
kepemimpinan Fajri dengan cara di Pejabatkan. Kelompok ini dipimpin oleh
Pj. Ketua Umum saudara Dwi Julian. Selang beberapa bulan setelah
dilakukan ivestigasi oleh Majelis Pengawas dan Konsultasi (MPK PB HMI),
ditemukan bukti-bukti yang membenarkan skandal amoral yang dilakukan
Fajri dan “N”. Surat bantahan yang konon katanya dibuat oleh si “N”
bahwa berita itu tidak benar ternyata dibuat oleh saudara Syafi’i
(bendahara umum PB HMI). MPK akhirnya merekomendasikan ke PB HMI agar
Fajri di Pejabatankan. Diangkatlah Sekretaris Jenderal, saudara Basri
Dodo (selanjutnya disebut Basdo) mejadi Pj. Ketua Umum. Setelah itu, PB
HMI dibawah Pj. Ketua Umum Dwi Julian – karena merasa sevisi dengan
putusan MPK – melakukan peleburan struktur degan Pj. Ketua Umum Basri
Dodo.
Banyak pihak awalnya optimis bahwa dengan disahkannya putusan MPK Fajri
akan terkubur. Ternyata dugaan itu meleset. Fajri ternyata masih sangat
kuat. Basdo kemudian melakukan restrukturisasi pengurus. Fajri juga
melakukan hal yang sama.
Beberapa waktu berselang, dilakukanlah upaya rekonsiliasi yang dilakukan
oleh Fajri dan Basdo yang dimotori dan disaksikan langsung oleh
beberapa alumni HMI, seperti Akbar Tanjung, Jusuf Kalla dll. Dua kubu
Fajri dan Basdo sekaligus menadatagani perjanjian Kongres bersama. Hal
ini ditindak lanjuti dengan dibentuknya tim 21, masing-masing 10 orang
mewakili Fajri, 10 orang mewakili Basdo dan Dwi Julian secara pribadi.
Tim ini bertugas merumuskan metode peyelsaian koflik. Sayang seribu
sayang, tim 21 tidak berjalan seperti yang diharapkan. Bahkan beberapa
keputusan kemudian dianulir, dan keterwakilan senior dalam upaya
penyelesaian konflik dianggap mengintervensi bahkan di delegitimasi oleh
perwakilan Fajri. Tim 21 pun bubar tanpa hasil. Waktu terus berjalan,
upaya rekonsiliasi pun terus diupayakan.
Misi Penghancuran HMI
Setelah tim 21 gagal, dilakukan renegosiasi dengan cara diagendakan
pelaksanaan Pleno IV bersama sebelum dilakukan kongres. Usulan ini
ditawarkan oleh Fajri cs. Lahirlah kesepakatan, bahwa pleno IV akan
dilaksanakan pada tanggal 12 Januari 2013, dengan infrastruktur pleno;
ketua panitia (OC) dari kepengurusan Basdo dan coordinator steering
comitte (SC) dari kepengurusan Fajri, struktur lainnya disusun secara
proporsional.
Selanjutnya, dalam upaya melakukan persiapan pleno IV, saudara Fajri
seperti tidak beritikad baik untuk melaksanakan pleno IV bersama
sebagaimana yang sudah disepakati kedua pucuk pimpinan, Fajri dan Basdo.
Fajri selalu menghindar dan tidak mau menandatangani surat pemberitahuan
dan undangan pelaksanaan pleno IV yang telah dipersiapkan panitia untuk
dikirim ke masing-masing BADKO HMI. Bahkan sekretaris panitia yang
adalah fungsionaris PB versi Fajri ikut-ikutan tidak mau menandatangani
surat undangan tersebut. Bukan hanya itu, koordinator SC saudara Tasrif
M. Siddiq (selanjutnya disebut Tasrif) yang adalah Kabid PAO versi Fajri
tidak pernah mengagendakan rapat SC pleno. Bahkan ketika dihubungi
selalu beralasan masih diluar daerah. Undanganpun tidak tersedia, dan SC
tidak menyiapkan draft-draft Pleno.
Sehari sebelum waktu pelaksanaan pleno yang sudah diagendakan, panitia
ternyata telah siap untuk melaksanakan pleno IV, meskipun dengan
keterbatasan administrasi yang menjadi kendala. Koordinator SC saudara
Tasrif baru mengagendakan rapat SC satu hari menjelang pleno, tapi dalam
rapat SC Tasrif malah memita agar pleno IV diundur. Sontak saja, SC
yang lain tidak bersepakat dan tetap mendodorng agar sesuai dengan
kesepakatan yang sudah dibuat.
Pleno IV pun tetap dilaksanakan tanggal 21 di hotel menteng 1 Jakpus.
Namun lagi-lagi Fajri melakukan ‘wanpretasi’. Saat acara pembukaan,
Fajri tidak berada di Jakarta, alasannya sedang menghadiri pernikahan
salah seorang pengurusnya diluar daerah. Sungguh ironis, Fajri sebagai
ketua umum menganggap sepele agenda organisasi.
SC pun melakukan rapat mendadak yang dipimpin oleh coordinator saudara
Tasrif. Rapat SC menyepakati bahwa pleno tetap dibuka dan akan
dilanjutkan tanggal 17 januari (dengan asumsi, dilakukan perbaikan
administrasi sekaligus menunggu kehadiran Fajri). Dalam rapat SC itu,
coordinator membuat pernyataan bahwa, jika terindikasi tidak adanya
niatan baik dari dua pucuk pimpinan PB HMI (dalam hal ini Fajri dan
Basdo) untuk melakukan pleno IV bersama, maka akan lansung diambil alih
oleh SC dan Pleno bersama akan tetap dilanjutkan sesuai kesepakatan.
Meski tanpa kehadiran Fari, Pleno IV tetap dibuka secara bersama-sama
oleh masing-masing Sekjen. Pleno pun dibuka, dan sidang-sidangnya akan
dilanjutkan tanggal 17 sesuai kesepakatan. Praktis panitia memiliki
waktu 5 hari untuk perbaikan administrasi.
Lagi-lagi sayang seribu sayang. Panitia bersusah payah, namun diabaikan
oleh Fajri cs. Fajri pun tidak pernah mau ditemui, dihubungi pun tak
dijawab, administrasi tak terselesaikan, karena Fajri dan sekretaris
panitia enggan menandatangani surat undangan untuk dikirim ke
masing-masing Badko. Coordinator SC dihubungi pun tak pernah ada
jawaban.
Dalam hal ini, saudara-saudara bisa menilai sendiri siapa yang tidak berniat baik untuk menyelesaikan konflik PB HMI.
Fajri tidak pernah pro aktif untuk menjalankan kesepakatan-kesepakatan
yang dibuat bersama, bahkan cenderung wanprestasi, mengabaikan
kesepakatan tersebut. Fajri memang berkeinginan membiarkan konflik
berkepanjangan dengan cara tidak berkeinginan melaksanakan pleno IV dan
itu berarti Kongres bersama masih merupakan harapan hampa. Berbagai
macam upaya telah dilakukan, kesepakatan demi kesepakatan, namun Fajri
cs selalu mementahkannya sendiri, membuat organisasi seperti miliknya
sendiri.
Siapakah di Balik Layar Penghancuran HMI
Dalam halaman terdahulu, saya menulis bahwa satu-satunya kekuatan Fajri
di Kongres HMI adalah uang, uang, dan uang. Pertanyaannya adalah, dari
manakah uang Fajri membiayai PB HMI???????????????
Sebelum menjadi Ketua Umum, Fajri bekerja disalah satu perusahaan
pertambangan, PT. Aneka Tambang (ANTAM). Dari sinilah Fajri mendapat
dukungan modal untuk merebut ketua umum PB HMI. Selain itu, Fajri
memiliki jaringan yang cukup kuat di PB MIGAS.
Fajri melakukan kunjunga ke Vatikan dan Rusia (ini adalah pengakuan
Fajri sendiri). Fajri ke Vatikan dengan membawa misi memperjuangan
berdirinya gereja Yasmin di Bogor. Tentu kita semua tau, bahwa
masyarakat disekitar tempat dibanguya gereja Yasmin menolak keras gereja
itu dibangun. Di Vatikan Fajri bertemu dengan salah satu Kardial.
Namun, Fajri mengelak kunjungannya ke Vatikan dalam misi gereja Yasmi.
Fajri juga melakukan kujungan ke Rusia tanpa agenda yang jelas.
Dua kali perjalanan Fajri ke luar negeri ini memang tanpa agenda yang
jelas, dan sama sekali tidak pernah dibahas dalam agenda-ageda rapat PB
HMI, bahkan keberangkatannya cenderung dirahasiakan. Tak ada satupun
fugsionaris yang tau, selain yang memang ikut dalam kujungan itu.
Setelah kunjugan pun tak perah ada laporan. Setiap kali ditanya dalam
rapat, Fajri selalu menghindar. Setelah membuka rapat, Fajri kemudian
keluar, dan tak ada kesempatan mempertayakan kujungan itu.
Ironisnya lagi, saat acara Pra Kongres yang dilakukan Fajri di Palembang
beberapa waktu yang lalu, Fajri mengundang Duta Besar Amerika Serikat
sebagai pembicara. Padahal saat itu, Israel denga back up Amrika sedang
melakukan serangan ke Palestina. Kehadiran Dubes Amerika diacara Pra
Kongres diprotes oleh cabang, bahkan di demo.
Setelah itu, Fajri melakukan demonstrasi menolak seragan Israel ke
Palestina, Fajri dipukul babak belur. Jangan salah, dipukul dan
ditangkap memang setingan Fajri, seakan-akan membela Palestina dan ingin
mencari simpati public HMI, padahal setelah itu diam-diam Fajri bertemu
Dubes Amerika dan mendapat “imbalan”.
Terdapat indikasi yang kuat, bahwa Fajri banyak mendapat sokongan dana
dari BP MIGAS. Tentu kita masih ingat, usulan pembubaran PB Migas
dilakukan oleh tokoh-tokoh Muslim yang selama ini dianggap sebagai
ancaman bagi pihak asing, mereka adalah, Din Syamsudin (Ketua Umum PP
Muhammadiyah), Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Jakarta), Hasyim Muzadi
(Mantan Ketua Umum PB NU), Adhie Massardi, dan M Hatta Taliwang dll.
Ada apa dibalik ini semua…………